Ujian Nasional sebagai Standar Kompetensi Lulusan Siswa secara Nasional, Perlukah?


Indonesia sudah mengalami beberapa kali perombakan berkenaan dengan sistem yang digunakan dalam bidang pendidikan. Yang terakhir kurikulum yang digunakan dalam sistem pendidikan nasional disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang secara substansi dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh tiap satuan pendidikan dengan memasukkan pendidikan berbasis budaya lokal. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan kurikulum antara sekolah yang berada di wilayah A dengan sekolah yang berada di wilayah B. Karena karakteristik suatu wilayah pasti berbeda sesuai dengan topografi dan kondisi budayanya.

Dengan kondisi wilayah yang berbeda dan pembelajaran yang berbeda maka targetan akhir pembelajaran setiap sekolah seharusnya berbeda. Mata pelajaran yang berbasis budaya lokal menentukan strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. Guru sebagai fasilitator pembelajaran harus menyesuaikan metode dan pendekatan pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa. Indikator pencapaian pembelajaran disesuaikan pula dengan relevansinya kebutuhan hidup dan kepentingan daerah tersebut. Sehingga out put pembelajaran yang dihasilkan adalah lulusan yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah tempat tinggalnya.

Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa, dilakukan penilaian secara sistematis. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan, penilaian dilakukan oleh pendidik secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Satuan pendidikan atau sekolah juga harus melakukan penilaian kepada siswa untuk menilai pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL) semua mata pelajaran melalui ujian sekolah. Namun selain penilaian dari kedua pihak tersebut adalagi penilaian yang dilakukan oleh pemerintah untuk menilai kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu kelompok mata pelajaran iptek melalui Ujian Nasional (UN).

Ujian Nasional Bukan Representasi Pencapaian Kompetensi Siswa

Pertanyaan yang boleh diajukan adalah perlukah ujian nasional dilakukan untuk mengetahui penguasaan kompetensi lulusan? Padahal guru dan sekolah sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses pembelajaran pun sudah melakukan penilaian yang menurut hemat saya sudah sangat representatif untuk mengetahui kompetensi siswa, bahkan hasilnya lebih valid dalam menggambarkan pencapaian belajar siswa karena dilakukan secara berkesinambungan dan disesuaikan dengan kurikulum sebagai perencanaan pembelajaran siswa.

Permasalahan lain yang timbul dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) adalah banyaknya praktek kecurangan, mulai dari joki jawaban ujian sampai dengan mark up nilai ujian nasional. Tuntutan nilai ketuntasan minimum yang semakin tinggi adalah salah satu indikasi penyebab praktek kecurangan dalam ujian nasional. Nilai 6,5 adalah standar nilai minimum yang menurut saya pribadi terlalu tinggi untuk standar ujian nasional, jika dilihat dari kemampuan rata-rata siswa dalam menjawab soal. Realitas yang ada pencapaian hasil belajar siswa pada penilaian-penilaian yang sudah saya temui di lapangan secara murni pada siswa yang mempunyai kemampuan rata-rata hanya berkisar 40-50 persen. Bagaimana mungkin pemerintah yakin dengan meninggikan standar nilai minimum sampai dengan 6,5 dapat meningkatkan kualitas lulusan yang juga secara korelasi positif dapat meningkatkan human development index manusia Indonesia. Yang ada hanya semakin maraknya simulasi dalam dunia pendidikan Indonesia.

Kasus gugatan yang diajukan oleh Kristiono dan kawan-kawan terhadap presiden, wakil presiden, Menteri Pendidikan Nasional, serta Ketua BSNP, adalah satu contoh kasus dari permasalahan yang timbul dari ujian nasional. Mereka menilai pemerintah lalai dalam memenuhi kebutuhan hak asasi manusia di bidang pendidikan. Kalau kita analisis lebih lanjut kondisi di lapangan, ujian nasional memang banyak memberikan dampak negatif, baik terhadap siswa maupun pihak-pihak lain yang terkait. Bukan suatu rahasia lagi kalau ujian nasional dijadikan ajang kepentingan politik oleh pihak-pihak tertentu.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 66 menyebutkan bahwa ujian nasional adalah salah satu bentuk penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pemerintah, bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi. Hal ini sedikit berbeda dengan penilaian hasil belajar di perguruan tinggi, yang proses penilaiannya hanya dilakukan oleh pendidik dan satuan pendidikan (perguruan tinggi) yang bersangkutan. Jika pada perguruan tinggi saja penilaian bisa dilakukan oleh dosen dan perguruan tinggi yang bersangkutan saja, maka tidak akan ada masalah berarti jika saja ujian nasional dihapuskan, karena pada tingkatan perguruan tinggi pun penilaian yang dilakukan oleh pendidik dan perguruan tinggi yang bersangkutan sudah representatif untuk mengetahui penguasaan kompetensi lulusan.

Kalau pemerintah mengatakan bahwa hasil ujian nasional dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam seleksi penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi, maka hal itu bisa dinegasikan karena perguruan tinggi bisa melakukan penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi ujian masuk perguruan tinggi. Penerimaan mahasiswa dengan jalur khusus pun masih bisa menggunakan nilai hasil ujian akhir sekolah dan raport, karena hasil ujian akhir sekolah dan raport juga sudah memenuhi standar kompetensi lulusan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Artinya alasan apapun yang menjadi pertimbangan agar ujian nasional tetap digunakan sebagai alat penilaian hasil belajar atau sebagai alat untuk mengukur tingkat penguasaan kompetensi lulusan secara nasional bisa terbantahkan.

Untuk melakukan pemetaan mutu pendidikan secara nasional, pemerintah pusat bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah, karena satuan pendidikan (sekolah) biasanya melakukan pelaporan hasil belajar siswa secara berkala kepada dinas pendidikan yang menaungi sekolah tersebut. Selain itu pemerintah pusat punya badan khusus yang disebut dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yaitu badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan. Standar nasional pendidikan yang ditetapkan BSNP yang terdiri dari standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan adalah acuan bersama satuan pendidikan dalam mengelola proses pembelajarannya.

Untuk mensinergiskan pencapaian minimal profesionalitas pendidikan mungkin keberadaan badan bagian dari pemerintah yang capable dalam memformulasikan standar minimal secara nasional seperti BSNP diakui sangat dibutuhkan. Namun formulasi yang dilakukan hendaknya secara konsep dan teori adalah sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran oleh satuan pendidikan. Pelaksanaannya dikembalikan lagi ke satuan pendidikan, disesuaikan dengan sejauh mana pemerintah daerah tempat satuan pendidikan tersebut bernaung dalam memberikan dan meningkatkan fasilitas yang layak untuk proses pembelajaran.

Kondisi daerah yang berbeda pastinya memberikan pengaruh terhadap satuan pendidikan yang dinaunginya. Alhasil ini pun berdampak pada hasil belajar siswa yang berada di daerah tersebut. Ujian nasional dengan standar nilai minimal yang sama tidak memungkinkan digunakan karena kondisi tiap daerah tidak sama, ada yang pendapatan daerahnya tinggi sehingga fasilitas belajarnya lengkap dan menunjang pembelajaran siswa dan tidak dinafikan pula masih banyak daerah tertinggal di negeri ini yang tentunya hanya memenuhi kebutuhan fasilitas belajar satuan pendidikan di daerahnya seadanya atau bahkan jauh dari standar nasional yang sudah ditetapkan.

Masih jauh saya pikir masanya untuk menjadikan ujian nasional sebagai standar penguasaan kompetensi siswa dengan semua kondisi yang sudah kita lihat di lapangan. Masih banyak satuan pendidikan dan daerah yang belum siap dengan pemberlakuan standar nasional yang sama rata karena kondisinya yang berbeda-beda. Karenanya jangan kita korbankan siswa hanya untuk memenuhi egoisme kita dalam mencapai sesuatu yang belum semestinya, memaksa kita untuk berpura-pura buta dengan realita pendidikan yang ada saat ini. Semua yang ideal harus melalui proses. Mungkin ada baiknya jika selangkah demi selangkah kita perbaiki kondisi pendidikan di Indonesia. Pencapaian standar ketuntasan belajar siswa yang saat ini lebih memungkinkan diserahkan kepada pendidik dan satuan pendidikan yang bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan pembelajaran siswanya adalah satu jawaban yang sangat realistis. Jika pembangunan daerah sudah merata dan fasilitas pembelajaran pun menunjang, perlahan demi perlahan sistem pendidikan kita akan menuju ke bentuk yang lebih sempurna yaitu pencapaian standar pendidikan yang merata secara nasional.****

Absurd


jika kau percaya maka kau mempunyai keyakinan yang pasti
lebih pasti dari keyakinan besok matahari terbit
lebih pasti dari beberapa tahun lagi aku akan mati

aku berpikir bahwa inti dari kepastian adalah ketidakpastian

andaikan keyakinan seratus persen pasti
bukankah itu sangat menjemukan?
kita akan mulai mengantuk dan tertidur
tidak ada surprise lagi
tidak ada keinginan lagi
hilang semua ekspektasi

kepastian berdasar ketidakpastian
kepercayaan adalah suatu pengalaman petualangan

lihatlah cakrawala
cakrawala itu pasti ada
dekatilah, maka gejala itu akan menjauhkan diri
itulah justru esensi
cakrawala adalah hal yang ada karena ia tidak ada

aku heran mengapa ada hal yang mengada
lebih masuk akal jika tidak ada apa-apa

pahami bahwa kepercayaan bukan falsafah
yang percaya langsung meloncat dan percaya
yang heran tetap berjalan
keheranan mendorongnya berjalan langkah demi langkah
tanpa pernah mencapai tujuannya
karena hal yang dicari adalah absurd

orang yang berpendapat telah mencapai Tuhan memang tidak mencapai Tuhan

Guru dan Pendidikan Di Negeriku


Pendidikan adalah satu aspek yang sangat penting dalam pembangunan manusia. Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa ditentukan oleh proses pendidikannya. Pendidikan bisa dikatakan sebagai suatu wadah pemberlakuan nilai dan budaya. Di dalam pendidikan terdapat proses pembentukan yang mendukung tumbuh kembang manusia mulai dari kecil sampai dewasa. Secara sosiologis, makna tersebut harus terkandung dalam praktik pendidikan kita. Maka paradigma pembelajaran kita yang dulu hanya terfokus pada pembelajaran terminal harus bergeser ke paradigma pembelajaran sepanjang hayat, yang sebelumnya hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan harus berubah menjadi pembelajaran yang bersifat holistik.

Tidak hanya berperan dalam pengembangan personal, pendidikan juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengembangan sosial. Melalui pendidikan, kita bisa menanamkan nilai dari suatu perdamaian, kebebasan dan keadilan. Ada kata ‘nilai’ yang harus sama-sama kita ingat sebagai kata kunci dalam proses ini. Artinya, pembelajaran bukanlah media untuk transferisasi pengetahuan dari guru ke anak didik, tetapi lebih dari itu, bagaimana supaya anak didik dapat mengaktualisasikan nilai-nilai eksistensinya sebagai manusia dan dapat melakukan penyesuaian diri yang siginifikan terhadap perkembangan zaman. Ini sesuai dengan makna pendidikan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Semua proses yang dilakukan dalam pendidikan tersebut bergantung pada elemen-elemen pendukungnya. Di antaranya ada pendidik sebagai pihak yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan peserta didik. Pendidik atau biasa yang disebut sebagai guru dapat melaksanakan itu semua secara profesional bila sudah memiliki kualifikasi minimum dan mempunyai kemampuan dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. Dan secara personal, seorang guru harus sehat, tidak hanya secara jasmaniah tetapi juga rohaniah. Sikap dan tingkah laku seorang guru sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan belajar. Karena anak didik tentunya juga akan menilai layakkah seseorang menjadi guru dari sikap dan tingkah lakunya.

Permasalahan yang sering dijumpai di lapangan adalah permasalahan yang berkenaan dengan masalah citra diri ini. Biasanya anak didik tidak akan merespon nilai-nilai yang diberikan jika sang guru sebagai teladannya tidak menunjukkan pencitraan nilai-nilai yang diajarkan. Praktek-praktek kekerasan dan pelecehan dalam proses pembelajaran adalah aktivitas yang sangat mencoreng nama baik guru dan dunia pendidikan. Seharusnya yang seperti itu tidak boleh terjadi. Karena secara teori, seorang guru dalam pembelajaran tidak boleh melakukan destructive discipline, tetapi harus selalu melakukan reinforcement positif sebagai salah satu usaha memberi motivasi dan menumbuhkan minat belajar anak didik.

Seorang guru dituntut untuk menguasai soft skill, di samping juga hard skill. Soft skill ini adalah kemampuan dari dalam diri guru, bagaimana secara positif dapat menarik perhatian anak didik untuk dapat mengikuti proses kegiatan belajar mengajar dengan maksimal dan menyenangkan. Jangan sampai timbul persepsi pada anak didik bahwa suasana belajar itu adalah suatu lingkungan yang menyiksa, membosankan, kurang merangsang, dan berlangsung secara monoton sehingga mereka belajar secara terpaksa dan kurang bergairah. Para guru juga tidak boleh terjebak dalam kondisi suasana yang kurang menyenangkan dan rutinitas sehari-hari. Maka dengan demikian, perlu ada perubahan paradigma pembelajaran yang konvensional ini pada pola pikir guru.

Dalam PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, disebutkan pada pasal 3 bahwa seorang guru harus mempunyai kompetensi yang secara holistik meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik secara aktual misalnya mampu menyusun dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, yang dapat menggairahkan dan memotivasi belajar anak didik; menguasai berbagai macam strategi dan pendekatan serta model pembelajaran sehingga proses belajar-mengajar berlangsung dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan; mampu memodifikasi dan memperkaya bahan pembelajaran sehingga anak didik mendapatkan sumber belajar yang lebih bervariasi.

Kompetensi kepribadian dan sosial secara deskriptif akan ditampilkan pada sosok seorang guru yang mampu menjadi teladan bagi anak didik dan masyarakat luas dengan selalu menunjukkan sikap dan perbuatan yang terpuji dan mempunyai integritas yang tinggi. Selain itu juga mempunyai visi ke depan dan mampu membaca tantangan zaman sehingga siap menghadapi perubahan dunia yang tak menentu yang membutuhkan kecakapan dan kesiapan yang baik.

Kompetensi profesional dikatakan ada pada seorang guru bila ia bisa menyukai apa yang diajarkannya dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi yang menyenangkan; tidak mendominasi pembelajaran, memberikan kesempatan kepada anak didik untuk lebih berani, mandiri, dan kreatif dalam proses belajar mengajar; tidak terjebak dalam rutinitas belaka, tetapi selalu mengembangkan dan memberdayakan diri secara terus-menerus untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan, seminar, lokakarya dan kegiatan sejenisnya; dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak tertinggal dengan informasi terkini. Kompetensi-kompetensi inilah yang menentukan apakah seorang guru dikatakan qualified atau layak sebagai seorang pendidik.

Menurut data Balitbang Depdiknas (2003), ternyata masih banyak guru yang tidak layak mengajar. Pada jenjang sekolah dasar ada sebanyak 49,3 persen (609.217 orang) diklasifikasikan ke dalam guru tidak layak mengajar, pada jenjang sekolah menengah pertama ada sebanyak 35,9 persen (167.643 orang) guru tidak layak mengajar, pada jenjang sekolah menengah atas ada sebanyak 32,9 persen (75.684 orang) guru tidak layak mengajar, dan pada jenjang sekolah menengah kejuruan ada sebanyak 43,3 persen (63.961 orang) guru yang juga tidak layak mengajar. Kondisi ini sangat memprihatinkan bagi keberlangsungan proses pendidikan di Indonesia. Karena lebih dari sepertiga jumlah seluruh guru di Indonesia yang tidak mampu melaksanakan tugasnya secara profesional. Efeknya pasti akan langsung tampak pada out put pembelajaran, yaitu anak didik. Mereka akan kurang cakap dalam mengaktualisasikan diri di tengah-tengah masyarakat.

Proses sertifikasi yang dilakukan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran ataupun sebagai usaha dalam peningkatan profesionalisme guru merupakan suatu keniscayaan masa depan pendidikan, tetapi dengan catatan semua itu dilakukan secara objektif, transparan dan akuntabel. Proses tersebut harus mengacu kepada proses perolehan sertifikat guru yang tidak diskriminatif dan memenuhi standar pendidikan nasional. Di samping itu juga memberikan peluang kepada guru untuk memperoleh akses informasi tentang pengelolaan pendidikan yang sebagai suatu sistem meliputi masukan, proses, dan hasil sertifikasi. Semua proses itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara administratif, finansial dan akademik.

Merupakan harapan kita bersama bahwa guru-guru di Indonesia baik yang di pelosok maupun yang di kota merupakan sosok-sosok guru bangsa, yang mengabdikan sepenuh dirinya secara profesional untuk masa depan generasi muda calon pemimpin bangsa. Tanpa ketulusan dan keikhlasan, mereka tidak akan bisa melakukan tugasnya yang mulia ini dengan maksimal. Namun semuanya itu dikembalikan lagi kepada para guru. Secara pribadi, mereka adalah manusia yang punya tanggung jawab mengukuhkan nilai-nilai sebagai bagian dari akulturasi budaya yang positif. Dan sebagai bagian dari masyarakat mereka juga harus melakukan kesepakatan-kesepakatan penetapan nilai bersama sebagai acuan yang normatif dalam berkehidupan. Akhirnya, semoga sosok guru adalah manusia paripurna yang mampu mengemban tanggung jawab besar dalam penanaman nilai-nilai universal. Dan semoga saja pendidikan pada beberapa tahun mendatang merupakan konsentrasi utama kita bersama untuk memajukan budaya dan nilai bangsa Indonesia.***

Mencoba Menggali Kembali Part 4


There're many wisdoms give us lesson about life. Almost them talk about love, how to understand ourselves and how we can successfully live together in a society. For some ones, it's difficult to live in a big group. Coz, you've to care enough with others. Eventhough you have internal problems that not really can't be finished yet by yourself. But, a big duty must be done by you without selecting age, sex and class. Man-woman, old-young, rich-poor, all that called human have same duty. Caring the world in harmony. Making all happen in a rule.

You are pretended by The Biggest Glory to execute your promise in past when you want to luxuriate a chance living on this world. Now you get the chance, you must be sportive in executing. Don't be cheating coz The Biggest Glory delegates many guards to assess your execution. One important thing, you've to always keep in considering when you want to do something. Is it useful for you and others? If it's not, you're a fool for one's pains.

But, you can see if our condition is not in stability. We always change, change and change. We live in zigzag way. Sometimes we can keep in goodness, but sometimes in badness. The control of you, your positive thinking may lose the conduction if your heart is not good. I still often lose my self's control when my heart in bad condition. The situation beyond you gives effect directly to your self confidence besides your internal condition likes hormons etc. How to prevent the bad condition? As far as I do, I just make positive self talk to myself until I cure. It successfully cures you to better condition. But you've to do it consciously.

I think the consciousness is the second important thing in doing something beside considerence. Just think about it, suppose you are not in consciousness may be you don't know why you should do your duty. As individual, you have to care yourself totally, keep your body, your mind, your heart so that you're keeping in balance stability. As a part of society, you've to keep them in harmony; help others, respect to others, honest, wipe discrimination out, live in solidarity. All it is the meaning of credibility.

As far as you do in consistency, all will work in harmony. Causality theorem works in almost part of life. Goodness will cause goodness, and on the contrary, badness will cause badness. Hopefully, we'll do the best for our life, as one of inferiority to The Biggest Glory. It'll bless who execute the promise in consciousness consistency.

(to be continue)

Tepat Tiga Bulan Dan Dua Tahun Yang Lalu


"Maaf sobat, untuk yang satu itu aku tak bisa memenuhi"
Aku teringat dengan kata-kata yang terucap tiga bulan yang lalu
Saat kau menanyakan kepastian posisimu di hatiku


Dua tahun ini kau selalu ada di sampingku
Menemaniku di saat-saat yang sulit
Menyisihkan banyak waktu tuk sekedar mendengarkan curahan galauku
Mendahulukan keinginanku walau kau harus mengenyampingkan kepentinganmu
Kadang kau berada di tepian di saat aku butuh sandaran
Dan semuanya membawa ketentraman
Karena kurasa kau memberi ketulusan hati seorang teman

Dengan selalu mengucap syukur aku menyanjungmu di hatiku
Tak ada yang bisa menandingi kesabaran dan kebaikanmu
Mungkin kau tahu itu
Kau adalah berkah tiada tara untukku
Keberadaanmu mendahului waktu
Sebelum kesusahan mendatangiku
Kau sudah mengusirnya jauh-jauh


Hari itu aku memandang wajahmu dengan kesadaran
Ternyata ada sketsa yang penuh harap di sana
Yang dengannya kau menjalani hari-harimu
Dengan asa yang sudah tergantung di ubun-ubun
Yang jika tak segera kau keluarkan
Akan menjadikan kegilaan di malam-malammu


Dan tiga bulan yang lalu kita bertemu
Kau ingin memastikan kembali posisimu di hatiku
Tapi ku tak bisa berucap banyak
Kata-kataku yang sedikit terasa sudah sangat menyakitkan untukmu
Jika aku ada di posisimu mungkin aku akan meluapkan kesakitan di muka wajahku
Tapi kau hanya duduk terdiam dengan mata berkaca-kaca
Yang sungguh aku tak mampu menatapnya
Kesakitan itu terpancar jelas pada wajah
Usahamu untuk menutupinya dengan senyuman terasa sia-sia

Pertemuan kita diakhiri dengan kata-katamu yang begitu sendu
Tapi sedikit pedas terdengar di telingaku
Aku hanya mampu menunduk dengan sesekali berkata
Dan lagi-lagi, aku hanya mampu mengucap satu kata
"Maaf…"
Mungkin sudah ratusan kali kau dengar di telinga

Binjai, 26/10/09 23:42 WIB
Untuk seseorang yang sesaat tadi mengingatkanku tentang cerita tiga bulan dan dua tahun yang lalu
Terima kasih untuk semua kebaikanmu
Semoga suatu hari aku mampu melunasinya

Ada Yang Menarik Dari Masing-Masing Mereka


Hari ini duduk di depan lagi. Lama gak seperti ini. Nervous… Apalagi duduk bareng orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Hari ini anak-anak Kohati Camed buat sarasehan tentang "Kedudukan dan Peran Strategis Perempuan dalam Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat Kota Medan Berbasis Ekonomi Syariah". Bukan bidangku, tapi itung-itung sambil belajar, kan juga lebih kena kalo aplikatif gini. Jadi kuberanikan diri tuk terima tantangan dengan persiapan hanya satu malam. Harap maklum kalo kali ni jadi banper, coz pembicara yang direncanakan tiba-tiba ga bisa datang..:)

Pembicaranya asik-asik… Ada Gus Irawan Pasaribu, kenal kan? Itu lho, Dirut Bank Sumut. Cool deh orangnya, respect. Dari gaya bicaranya nampak kalo orangnya bener-bener pinter, wajar kalo beliau bisa sampe tiga periode menjabat jadi Dirut. Beliau membahas tentang "Dukungan Bank Sumut pada Sektor UMKM dengan Penyediaan Kredit Khusus Perempuan". Emm, mereka sadar kalo perempuan sebenernya punya peranan yang sangat signifikan dalam meningkatkan dan mengembangkan perekonomian makro, karena perempuan bisa memulainya dari satuan yang terkecil, yakni perekonomian rumah tangga. Kalo gak salah nama produknya KPUM-Sumut Sejahtera. Pelayanan kreditnya pun menunjang aktivitas perempuan. Ibu-ibu gak perlu repot-repot dateng ke Bank Sumut, karena bakal ada account officer yang dateng ke masing-masing kelompok kredit. Dan prosesnya juga ternyata banyak memberikan keuntungan sama nasabah. Ada edukasinya juga, namanya PWKKM (Pelatihan Wajib Kelompok Keuangan Mikro), Di sini ibu-ibu bakal dikasih pelatihan setuntas-tuntasnya sampe dengan gimana cara mengelola modal. Oiya, katanya program ini baru satu tahun berjalan. Wilayah yang dijadikan sebagai uji coba, daerah Gunung Sitoli, Nias. Kebayang kan, daerah Nias ini salah satu daerah yang tertinggal di Sumut. Transportasi ke sana sulit, harus naik boat lagi. Taraf perekonomian masyarakatnya rendah, latar belakang pendidikan juga bisa dibilang gak ada. Bahkan tuk berbahasa Indonesia aja mereka gak bisa. Tapi, interest mereka untuk mengelola usaha mikro patut diacungin jempol…

Selanjutnya, ada bang Azhari Akmal Tarigan. Alumni HMI yang mumpuni dalam pembahasan NDP. Beliau juga pakarnya syariah, jadi pasti tetep nyambung pembahasannya. Topik yang beliau angkat tentang "Perempuan sebagai Lokomotif Perubahan dalam Perspektif Islam". Berangkat dari pembahasan tentang Jihadukunna fi buyutikunna (jihad kamu wahai perempuan di rumah kamu masing-masing). Secara kontekstual ungkapan nabi ini menjelaskan apa yang disebut dengan skala prioritas. Ada pembagian peran dan fungsi. Perempuan harus produktif, bisa memberdayakan keluarga dan masyarakat mulai dari rumahnya masing-masing. Penggunaan kata jihad menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja, melayani suami dan mengasuh anak, lebih dari itu rumah sejatinya harus dijadikan sebagai lokus perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik.
Inti dari semua yang dibahasnya adalah "Kekuatan untuk mengubah dunia ternyata ada di rumah kita, maka mulailah dari rumah!"

Pembicara ketiga, Kepala Bappeda Medan, Ir. Syaiful Bahri. Beliau menggambarkan kondisi perempuan kota Medan berdasarkan akurasi data yang up to date. Terbantu sedikitlah dengan adanya pemaparan data dari beliau, aku tinggal nambahin analisis dikit-dikit, he… Di antaranya jumlah penduduk di Kota Medan yang berjenis kelamin perempuan ada sekitar 1.6 ribu jiwa (50.54% dari jumlah seluruh penduduk kota Medan). Jumlah lowongan kerja yang ditempati perempuan mencapai 8.653 orang. Ada 16 koperasi aktif di Kota Medan dengan jumlah anggotanya sebanyak 365 orang perempuan. Di bidang pendidikan, jumlah mahasiswa perempuan juga mencapai hampir 50% dari jumlah keseluruhan, dan beberapa data lainnya…

After that, it's my show time… Agak sedikit ragu, tapi aku pikir untuk pembahasan permasalahan perempuan kan dah biasa. Yup, jadi kumulai dengan pembahasan capaian MDG's Indonesia tahun 2008. Dengan targetan pembahasan MDG's yang fokus pada perempuan dan kemiskinan, pastinya kalau pemerintah kota bisa mensinergiskan dengan RPJMD dan renstada, pada tahun 2015 capaian MDG's di daerah akan mendekati angka yang ingin dicapai. Kita berharap bahwa arah kebijakan dan program pembangunan kota Medan 2010 akan memperluas lapangan kerja dan juga meningkatkan indeks pembangunan manusia kota Medan. Kaitannya dengan posisi strategis perempuan, apabila lapangan kerja semakin terbuka lebar, maka kesempatan perempuan untuk bekerja juga semakin besar. Ini akan berkorelasi positif dengan peningkatan indeks pembangunan manusia (HDI) dan indeks pembangunan berelasi jender (GDI). Tapi semuanya dikembalikan lagi kepada perempuan, silahkan mau pilih beraktivitas di sektor formal atau informal. Dan juga harus disesuaikan dengan kapabilitasnya. Malu kita, liat beberapa kawan yang menggembar-gemborkan penuntutan hak, jabatan dan posisi. Masa dapat posisi dan jabatan karena diminta sih, tunjukkan kemampuan, pasti orang-orang yang akan mencarimu dan menawarkan posisi.

Ups, balik lagi ke pembahasan sebelumnya...^^ Nah, kalo di bidang informal ada istilah care economy, perempuan bisa berkontribusi pada produk subsisten dan sektor informal. Jika diamati ternyata banyak juga perempuan yang bekerja secara sukarela dalam masyarakat (kerja sosial). Padahal kontribusi dari care economy sebesar separoh dari produk domestik bruto (GDP). Artinya jika kerja-kerja perempuan dalam model care economy memberikan income ke pendapatan pemerintah/swasta, perempuan juga harus bisa mengelolanya menjadi semacam bisnis yang memberikan keuntungan kepada dirinya. Dengan secara tidak langsung pengembangan manajemen juga bisa dilakukan secara alami, dipelajari secara otodidak oleh para perempuan. Jadi, kesimpulannya posisi perempuan memang benar-benar strategis dalam gender mainstreaming khususnya dalam pembangunan ekonomi.


Oiya, aku di sini juga mau sekalian curhat tentang Bapak-Bapak di atas. Pembahasan sarasehan hari ini agak sedikit mengembang membahas permasalahan quota perempuan. Mereka adalah pihak-pihak yang tidak sepakat dengan adanya quota 30 persen keterwakilan perempuan. Alasannya sama, bahwa ada suatu pemaksaan jabatan ataupun posisi, dimana belum tentu perempuan tersebut berkompeten dan layak atas jabatan tersebut. Terkesan meminta jadinya. Kan lebih baik kalo perempuan bersaing secara sportif, dalam artian harus bisa menunjukkan prestasi, kalau memang mau mendapatkan posisi terhormat. Bener itu… Kalian perempuan, belajarlah dengan baik, raih prestasi, tunjukkan minat dan bakat, maka kalianlah yang akan memegang dunia… Bravo!

Ya... Itu Matematis


bisikan-Nya kembali datang malam ini
kata-Nya tak ada yang tak mungkin untuk terjadi
walau untuk itu pun kau harus bermain probabiliti
kata-Nya lagi keseharian yang ada dengan kejumudannya bisa berganti
dengan kepercayaan untuk berintegerasi
ataupun berdiferensiasi dalam suatu fungsi (kebaikan)
limit tak hingganya masalah hidupmu
akan selesai jika kau pintar menggunakan de hospital strategy
mengurai satu persatu dan membagi
dengan faktor ekuivalensi

kupercaya itu
setiap bagiannya mengandung nilai matematis
yang harus bisa kau hitung
bukan untuk mencari untung ruginya
tapi kalau bisa kau hitung
akan ada pembagian yang merata
itulah yang disebut keadilan
walaupun kau tak bisa menegasikan adanya pengalian juga
tapi paling tidak ada keseimbangan yang terkandung di dalamnya
kombinasi di antara keduanya
menjadikan diskriminan sama dengan nol
maka kurva parabola hidupmu akan berada
tepat sejajar dengan aksis horizontal

Incredulity


Think one minute for our nation
You may undertand about a big scenario behind it
Not as simple as 3D tetris game
Only rotate or think how axsis can be symmetry

Simulate is something usual
That you can see on our stakeholders' face
All of just about prestige
They're made from high quality mud
Spotles looked up
Rotten's smelt musky
Show the esthetic of banality

Simulation...
Two thumbs up for it
It's incorrigible
Elegant for them
But felt loathe for us
Your effort is incredulity, sir!

Mencoba Menggali Kembali Part 3


Absurditas kian hari akan memenuhi kepalamu karena kondisi keseharianmu yang tak memberikan makna apa-apa. Cobalah engkau rasakan keberadaanmu, apakah kau merasakan sesuatu yang rasanya mirip-mirip dengan ketiadaan. Atau jika kau sulit memaknai arti ketiadaan, aku akan merangkum maksudku dalam satu kata "hampa". Yah, benar… Hampa. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, kehampaan.

Banyak ketidakadilan dan ketidakbecusan yang terjadi di sekelilingmu. Yang kau sebenarnya tak kan bisa menutup mata dengan kejadian-kejadian itu. Pejabat yang meminta suap, atasan yang korup, bawahan yang tertindas, remaja yang terseret dalam dunia pergaulan bebas dan narkoba, anak-anak yang berperilaku over dewasa karena otaknya tergerus oleh maraknya veyourisme yang berkembang di media massa. Globalisasi yang memberikan efek yang tanpa kita sadari mengubah pola pikir dan budaya manusia. Kondisi ini memang sudah mengakomodir para orang tua untuk berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang secara cepat dan keuntungan instan karena tuntutan kebutuhan hidupnya yang semakin tinggi. Remaja dan anak-anak juga terpola dengan sempalan corak budaya yang terbawa oleh proses komunikasi peradaban, yang semakin sulit dibedakan mana yang merupakan bagian budaya yang bisa memperkaya khazanah dan mana yang merupakan perang pemikiran yang sengaja diselipkan untuk merusak pola pikir dan kebiasaan generasi muda.

Belum lagi kondisi stabilitas politik negeri yang kacau. Pemerintah yang tak pernah selesai mengurusi internal sistem dan strukturnya. Sibuk dengan kesepakatan-kesepakatan politis yang didasari oleh kepentingan-kepentingan individu. Yang didalamnya hanya ada nafsu berkuasa, tanpa dikuti oleh kesadaran bahwa mereka yang sudah berani mengajukan diri sebagai pemimpin negeri ini harus bisa mempertanggungjawabkan secara moral dan agama atas keangkuhan mereka, merasa mampu menjadi pemimpin, padahal tidak bisa adil dan sensibel dengan kondisi kalangan bawah. Bagaimana bisa menyelesaikan program yang menjawab kebutuhan rakyatnya jika mereka terus sibuk dengan urusan bagi-bagi kekuasaan, yang satu merasa tak cukup dengan jatah yang diberikan lalu membuat ulah, yang satu lagi sikut kanan kiri karena ketidakpuasan dengan jabatan yang diberikan, padahal kapabilitasnya dalam menjalankan tanggung jawab pun dipertanyakan.

Aku yang sampai sekarang masuk dalam sistem pemerintahan pun masih hanya bisa menduduki posisi sebagai penggembira, yang keberadaannya masih hanya diakui di atas kertas, tapi bukan berarti apa-apa dengan legalitas formal itu. Ingin menjerit rasanya melihat duniamu yang abu-abu itu, yang tidak bisa dibedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang jahat, mana yang dilandasi dengan kejujuran, mana yang dengan kemunafikan bertopeng ketulusan. Merangkak dalam pemikiran yang absurd, yang suatu saat bisa goyah karena tembok pertahanan dihantam dengan beragam serangan. Selalu datang tuntutan untuk bisa beradabtasi agar tidak tergilas oleh kondisi. Yang bisa aku perankan sekarang adalah sebagai seseorang yang seperti chameleon, berubah warna mengikuti warna-warna di sekitarnya, tetapi tetap memasang mata awas dengan perubahan sekitar. Tentu kau tahu semua itu dilakukan untuk mempertahankan diri dari serangan. Tapi semoga hanya penampakan luar yang berubah, darah tidak. Semoga kalaupun chameleon harus berada di daerah bersuhu dingin, tubuhnya tetap berdarah panas.

Simpan suaramu dulu, karena saat ini bukanlah saat yang tepat untuk bersuara. Ikuti saja dulu semuanya dengan perubahan warna, tapi jangan sekali-kali lengah. Dan aku maafkan kau chameleon, hari ini kau masih mementingkan keselamatan dirimu. Suatu saat nanti akan tiba masanya chameleon tidak merubah warna tubuhnya lagi, dan mulai berbagi dengan makhluk-makhluk yang hidup berdampingan dengannya, baik yang hidup melata, berjalan ataupun yang mengepakkan sayap di udara. Semoga masa itu segera menghampiri.

Janjimu Tuk Meraih Impian Bersama


Kau pernah bercerita padaku
tentang sesuatu yang menarik tentang apa yang ingin kau lakukan di kemudian hari
Sesuatu yang kau katakan terasa sangat nyata bagiku
karena kau menceritakan keinginanmu seakan-akan kau sudah sedang menjalani impianmu itu
impian yang mungkin juga impianku dan impian kita semua

Kau pernah berjanji
kau akan tetap berjalan dengan langkah-langkah yang sama
dengan kami yang pernah melalui hari-hari susah dan senang denganmu
untuk mencapai impian bersama
impianmu, kuanggap impianku, impian kita semua

Kau selalu berkata
impian itu takkan hadir jika kita tak mencapainya dengan saling berpegangan tangan
dalam kebersamaan yang menjanjikan untuk mencapai impian
impianmu, adalah impianku, impian kita semua

Ceritamu, janjimu, kata-katamu saat ini masih terekam jelas dalam memoriku
aku pun percaya bahwa kau akan tetap mengingat semuanya
ceritamu, janjimu, kata-katamu tentang impian itu
impianmu, yang masih tetap impianku, impian kita semua

Sampai sekarang aku pun yakin
ceritamu, janjimu dan kata-katamu mengandung kebenaran yang tak mengada-ada
tentang impian menjadi besar yang ingin kau capai bersama dengan kami yang selama ini percaya penuh padamu


Aku tahu bahwa impianmu adalah sesuatu yang sangat berarti dalam hidupmu
yang dengan kebersamaan aku pikir akan tercapai lebih mudah
dan kita pun telah berjanji untuk tetap berpeganan tangan untuk mencapai impianmu, yang juga impianku, impian kita semua

Namun semakin hari kenapa semakin terasa kita semakin jauh
apakah mungkin kau merasa bahwa mencapai impian bersama adalah sebuah bualan
hingga saat ini kau semakin tenggelam dalam usaha pencapaian impian itu
tapi dengan mengandalkan kemampuanmu sendiri


Aku tidak menuntutmu jika kau merasa yakin kau bisa mencapai impianmu sendiri
walau aku sempat yakin dan percaya dengan ceritamu, janjimu dan kata-katamu tentang mencapai impian bersama
tapi aku semakin tak percaya dengan adanya dirimu yang saat ini terasa semakin jauh
karena kau pernah mengutarakan keinginanmu untuk mencapai impian itu bersama
kau ingin mencapai keinginanmu bersama dengan kami yang pernah melalui susah dan senang bersamamu
tidakkah kebersamaan itu membuatmu merasa nyaman hingga kau sekarang berlari menghindar dan menjauh

(Atau kau merasa ternyata selama ini kami hanya merepotkanmu
hingga kau tak ingin memberikan sedikit ruang untuk kami masuk ke dalam hari-harimu belakangan ini)

Hmm… Aku masih yakin akan ceritamu, janjimu, kata-katamu tentang meraih impian bersama

Mungkinkah kau punya pikiran semacam itu
bahwa kami ini hanya merepotkan hari-harimu
dan kau menganggap impian kita semua hanya rencana yang tak mungkin untuk dicapai bersama
padahal sudah bertahun-tahun kita bersama
aku yakin sudah merasa mengenalmu
aku percaya kau tidak mungkin punya pikiran semacam itu

Dan aku tetap yakin kau masih ingat akan ceritamu, janjimu, kata-katamu tentang meraih impian bersama

Talking With Miss Heart


It's all about heart, so melancholic but we never bored to talk about it. Sometimes we feelin' happy and sometimes so bad, feel like a big stone falls on your head, and only confusing that always in your thought. We don't know when it comes, coz our heart can change without permission from us. If you tell your brain is the big one, your brain is the boss of you, maybe it's right but sometimes your brain has to let your heart leads all of you.

Actually, we need a reason when there's a changed happens with you. It's a rule from your thought. There's cause and consequence theory in this world whom with it we can live in ideality. If you do something you must have a reason why you do it. If something happens we have to know why it happens. When we live in this rule, i think we can't get problems in our living.

But, back to our topic about 'miss heart', if i may make a hypothesis, i think heart is the original source of problems in living. The heart doesn't have stability, she always changes when she likes, overrides your thought, and sometimes misleads you (if you can't control your heart's changing). Hmm, it's really wonderful small thing. Her weight is only 4-6 ons, but she can hold you. My hypothesis isn't overdone. You can feel her strong rides you.

You see, you can't smile if your heart is not good. If you sad, then mr. thought says, "you must laugh!" You will never hear him and your thought can't do anything coz your tears had gone on your cheeks. Hah.. Miss heart made mr. though gave up. I think if it always happens with us, we can't do something in a rule. Coz there's always miss heart that will mix it over.

We have to rethink about it to make a formular that can ride miss heart. Maybe you can help me getting the formula?

Mencoba Mengglai Kembali Part 2


What's the meaning of life? Kalau aku menanyakan hal itu padamu teman, apa yang akan engkau jawab? Apakah engkau akan menjawab sama dengan apa yang akan kukatakan, aneh, aneh sekali! (mungkin kata-kata ini akan keluar saat sakaratul maut tiba). Walaupun mungkin kau tak merasa heran dengan pertanyaan: dari mana saya, mau kemana, dan untuk kebaikan siapa adanya saya, apa gunanya hidup dengan begitu banyaknya kesusahan, tapi saat engkau meninggalkan dunia ini tidak lebih kata yang keluar dari mulutmu mungkin adalah 'aneh, aneh', mengingat dengan apa yang sudah di masa mana kau masih bugar.

Bukankah kita lahir dari kegelapan, dalam kandungan seorang perempuan. Hadir ke atas dunia tuk menikmati cahaya matahari, kemudian meninggalkan dunia ini dan kembali ke dalam kegelapan kuburan. Yang datang dari kegelapan mungkin tak kan heran dengan adanya cahaya. Tapi hidupmu dan hidupku bukan bermula dari yang terang dan tidak pula berakhir pada yang terang. Hidupmu dan hidupku melalui proses perubahan antara gelap dan terang. Maka apakah kita tidak mau bertanya tentang arti, makna dan maksud dari sandiwara yang disebut hidup.

Dan seperti kau dan aku lakonkan sendiri, kebanyakan dari kita sibuk mencari nafkah dan memuaskan nafsu hingga kita tersesat dalam lukisan, tidak pernah melihat bahwa lukisan punya bingkat dan tergantung dalam kamar yang penuh misteri. Ya... "Marilah kita menikmati hidup; sekarang kita masih ada, besok kita telah mati". Ini falsafah yang cukup murah, tapi tersebar. Mungkin orang-orang tidak memikirkan tentang hidup dan alam, karena mereka tidak punya bakat untuk berpikir abstrak dan metafisis.

Kalau si Ahmad sedang jatuh cinta dengan si Mila, yang tiap malam menghabiskan waktunya dengan memandang taburan bintang yang menghiasi langit, kira-kira si Ahmad bertanya tidak, ada apa di belakang langit itu? Dan, apakah si Mila tidak akan mengeluh dan berkata bahwa di belakang langit itu ada surga. Tapi kalau si Ahmad dan si Mila sudah dewasa dan harus bekerja, tidak akan ada waktu lagi untuk berpikir tentang kita darimana, kita kemana, dan what's the meaning of life? Nanti kalau badan si Ahmad kaku, baru mungkin mulai bertanya bagaimana arti dari perjalanan hidupnya yang gila itu.

Pikiran yang aneh ini bukan cuma milik orang Barat, dan bukan karena orang Timur yang punya pemikiran berbeda. Tetapi kita memikirkannya sebagai manusia, sebagai laki-laki, sebagai perempuan, sebagai muslim, sebagai katolik, sebagai kristen, sebagai hindu, sebagai budha, mungkin juga sebagai ateis.

Lalu, kapan engkau harus mencari penyelesaian dari cerita yang disebut hidupmu?

to be continue

Hari Ini Pukul 2 Dini Hari


Hari ini pukul 2 dini hari
jiwaku tergelitik
hadir sesuatu
ingin menghibur
dengan kesukaan

Hari ini pukul 2 dini hari
anganku melayang
mengejar kepastian
menelusuri alam bawah sadar
mencari sesuatu yang hilang

Hari ini pukul 2 dini hari
hatiku penuh harap
sesuatu yang hilang
hadir utuh
kembalinya kalbu

Hari ini pukul 2 dini hari

Ternyata jiwaku telah pergi
terbawa malam-malam yang lalu
bukan kelam
namun gelapnya
membuat nyaman
terasing
tapi menenangkan
bagimu yang rindu kedamaian
dan bagiku yang mengagungkan sepi dan kesendirian

Hari ini pukul 2 dini hari
tanpa makna
tanpa sapa
aku sendiri
menenggelamkan diri

Mencoba Menggali Kembali Part 1


Aku tak tahu harus darimana aku memulai cerita ini, tapi biarlah ia mengalir mencari reka bentuknya. Di saat-saat yang seperti ini, yang di dalamnya terdapat carut marut isi dunia, manusia tak lagi mendapatkan dirinya berdiri tegak pada kakinya. Berdiri pun dengan menopang badan pada tembok dan berjalan dibantu dengan kruk. Yang didapat dari sebab-sebab kerakusan hidup di dunia, mendarah daging dengan kelegaman nafsu dalam darahnya. Tanpa kesadaran mencari kebebasan hakiki, semuanya tergerak bagai mesin, terpola dengan ritme yang dikendalikan oleh uang sebagai penguasa. Terhegemoni dalam dunia yang kapitalistik, tanpa tahu bahwa geraknya hanya menguntungkan penguasa modal.

Hidup telah mati, dan Tuhan membiarkan ini terjadi karena geram melihat para hamba yang tak mengerti untuk sekedar mengucapkan syukur dan terima kasih. Sampai nanti pada puncak kegeramanNya, Tuhan akan membiarkan semua umatNya yang ingkar mati dalam kesesatan.

Dan ada bagian orang-orang yang tersadar, namun jumlahnya pun tak cukup memberikan warna perubahan pada kondisi yang terhegemoni kejumudan ini. Mungkin mereka malah akan berlari, menghindar, sekedar untuk menyelamatkan diri agar tidak teracuni oleh kegilaan duniawi yang kapitalis tadi. Hidup dalam sekat-sekat yang juga gelap dengan keangkuhan dan keapatisan diri. Hingga hidupnya pun berakhir karena sesak, tertekan ataupun tersiksa akan keterhinaan dan ketidakmampuan memberikan corak baru peradaban.

Dunia akan berakhir pada keterpurukan, karena manusia yang ada di atasnya tidak mengerti esensi hidup. Tidak tahu dan tidak mau mengerti akan perubahan waktu yang profan. Tersekat dalam kebodohan naluri, hingga ketakutan menjemput keberadaan.

to be continue..

Terlimit Jera Tak Terlena


Berdialog dengan hati
yang angkuh
terkisi

Serba-serbi hari
mensugesti
asasi menyerpih
tak sudi diri
bertautan badani

Saban hari
anak laki-laki
meriba rindu
sembari berkirap diri
zuadah dilengkapi

Laksana lazuardi
kepayang mata memandangi
bumi menyeringai
pada sosok yang tak tahu diri
yang kerdil
yang imajinya berlari
mencari dian seperti matahari
padahal rembulan hanya mengintip di sempadan

Dan asmara terpasung
jiwa menembang malu
diri menyumpah
terlimit jera
tapi tak terlena

Mencari Sesuatu Apa


Terjaga dari lelapnya mata
makna tersirat
di sudut-sudut jendela
peraduan

Hari ini berlalu
tanpa sesuatu yang berarti

Hati dipenuhi asa
namun tangan tak kuasa
tuk bertindak
kaki tak ringan
melangkah
mencari sesuatu apa

Kesadaran pun menampar sukma
bergelayutan
seolah tak mau lepas
menunggu sampai ku menyapa

Tapi ku tetap
pulas
hati tak bergeming
melihat realita menggilas
idealita
dan ku pun terpidana
dalam hayalan tak berhingga

We Will Not Go Down

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

By:MichaelHeart

Kita Semua Anak Ibu Pertiwi

Dalam sebuah buku yang sering dicetak, pengarang mulai dengan pertanyaan, "Untuk apa kita hidup di dunia ini?" Berjuta-juta orang yang membaca buku itu, memberi jawaban yang ditulis pengarang bahwa kita hidup di dunia ini untuk mengabdikan diri pada Tuhan dan dengan begitu masuk surga.



Pada zaman sekarang, jawaban ini tidak akan sejelas jawaban 100 tahun yang lalu, karena baik istilah Tuhan maupun istilah surga sudah kehilangan makna. Kita bisa coba tanya, apakah masih banyak orang pada saat ini menyiksa otaknya dengan pertanyaan itu. Waktu mereka mereka masih hidup dan menikmati TV dan majalah pasti tidak. Tapi kalau saat dokter memberitahu bahwa hidupnya mulai berakhir dan maut sudah dekat, mungkin ya.



Kalau tirai sandiwara ditutup, kita terpaksa meninjau panggung dari ruang penonton. Dengan mati sebagai latar belakang, dunia menjadi suatu tempat yang lain dari dunia akhirat. Dan mau tidak mau muncul pertanyaan, untuk apa ada hidup? What is the meaning of my life? Dan banyak orang yang mungkin tidak bisa memberikan jawaban lain daripada orang yang ada di ranjang maut melihat istrinya, anak-anak, dan cucu-cucunya dan mengatakan, "Aneh, aneh sekali!"

Sang tua, telah hidup 80 tahun. Dan ia tidak pernah merasa heran tentang pertanyaan: dari mana saya, ke mana, apa gunanya hidup dengan begitu banyak susah. Baru waktu ia mau meninggal, ia melihat panggung sandiwara hidupnya dan heran, tetapi keheranannya tidak lain daripada rasa heran sang borjuis yang hanya bisa mengatakan: aneh, aneh.

Semboyan "marilah kita menikmati hidup; sekarang kita masih ada, besok kita telah mati" adalah falsafah yang cukup murah, tetapi juga cukup tersebar. Mungkin banyak orang tidak memikirkan soal alam dan hidup, karena mereka tidak ada bakat untuk berpikir abstrak dan metafisis.

Kapan engkau harus menghadapi penyelesaian dari cerita yang disebut hidup? Pertanyaan itu katanya sering dipikirkan orang Barat, menjadi darah dan daging dari kepribadiannya, dan perbuatan-perbuatannya dikandungkan dalam pikiran mengenai tujuan hidup. Tetapi orang Timur memiliki pikiran yang lain. Konfutze tidak suka memikirkan akhir hidup karena hidup di dunia ini belum terang. Bagaimana kita akan memikirkan apa yang terjadi di seberang kuburan?

Dan Buddha yang penuh cahaya mengubahkan segala keragu-raguan menjadi ketenangan dan cahaya sehingga semua pertanyaan hilang. Karena itu, kita bisa bertanya apakah manusia dapat menghadapi soal hidup dan alam tanpa apriori dari pendidikan dan pengalaman.

Kita tidak memikirkan pertanyaan itu sbg manusia, tetapi itu sebagai laki-laki atau perempuan, sebagai Islam atau katolik, sebagai ateis atau orang yang percaya ada Tuhan.

But, bagaimana orang bisa mengetahui apakah dia mendapat karunia keselamatan atau apakah di sebelum penciptaan dunia sudah menjadi mangsa setan?

Sebagian besar dari manusia percaya ada Tuhan dan berpendapat bahwa tujuan hidup tidak di sini letaknya, melainkan di seberang kuburan. Ada lain yang melibatkan dirinya dalam usaha duniawi dan mereka merasa berbahagia dalam pekerjaannya dan tidak merasa perlu memikirkan soal-soal pelik tentang maut dan hidup sesudah mati. Golongan lain lagi tidak menghargai dunia, tetapi juga merasa asing di dunia.

Menuju Tuhan

Ion meninggal satu hari sesudah dipermandikan. Umurnya baru satu hari dan dia tidak berdosa. Arwahnya menuju surga dan dengan suara kecil dia berseru, "Saya Ion dan meninggal satu hari sesudah lahir. Bolehkah saya masuk surga?" Malaikat penjaga pintu menuju tahta Tuhan dan bertutur, "Ion menunggu di luar, dia meninggal satu hari sesudah lahir, tidak berdosa dan mau masuk surga." Tuhan bersabda, "Katakanlah kepada Ion bahwa ia harus pergi ke penggilingan gandum. Ia mesti berada di antara batu penggilingan selama 100 tahun, sesudah itu ia boleh datang lagi."

Malaikat penjaga pintu dengan sedih hati memberitahukan hal itu kepada Ion, "Selama 100 tahun engkau harus berada di antara batu penggilingan dan sesudah itu kau boleh datang lagi." Ion berada di antara dua batu raksasa penggilingan dan menangis karena sakit tidak terhingga. Penggiling sering heran dan berkata, "Rupanya ada anak yang menangis." Tetapi temannya menjawab, "Mungkin baling-baling penggilingan menyanyi karena tiuan angin." Setelah itu mereka tidak peduli lagi.

Sesudah 100 tahun Ion sakit, luka dan berdarah, menuju ke pintu surga dan berkata, "Saya Ion, saya meninggal satu satu hari sesudah lahir, selama 100 tahun saya berada di antara batu penggilingan, saya ingin masuk surga." Malaikat penjaga pintu, menuju ke tahta Tuhan dan mengatakan, "Ion datang. Dia meninggal satu hari sesudah lahir. Setelah berada 100 tahun di antara batu penggilingan dia ingin masuk surga." Tuhan bersabda, "Katakanlah pada anak itu bahwa dia harus pergi ke perempatan jalan di mana gerobak-gerobak besar lewat. Dia harus menjalani siksaan di bawah roda-roda gerobak itu."

Malaikat penjaga pintu dengan sedih hati mengabarkan hal itu kepada Ion. Seratus tahun lamanya Ion berada di bawah roda-roda gerobak yang berat. Dan, tukang-tukang gerobak yang mendengar Ion menangis, mengira bahwa roda-rodanya kurang minyak sehingga menjerit-jerit.

Sesudah 100 tahun Ion menuju lagi ke surga. Dan, sekali lagi malaikat penjaga pintu mengabarkan, "Ion datang lagi. Dia tidak berdosa dan telah berada 100 tahun di persimpangan jalan. Dia ingin masuk." Dan, Tuhan bersabda, "Katakanlah kepada Ion bahwa ia harus pergi ke hutan di mana ada pohon besar yang dua cabangnya saling bergesekan. Ion harus berada di antara dua cabang itu untuk menjalani siksaan."

Dengan sedih Ion pergi ke hutan. Waktu angin menggerakkan cabang-cabang pohon, dia sangat kesakitan dan menangis.

Pada suatu malam sekelompok pembunuh dan perampok berlindung di bawah pohon itu. Mereka bersenang-senang karena hasil rampokan hari itu besar sekali, tetapi sekonyong-konyong terdengar tangisan anak kecil sehingga mereka terdiam. Seorang pembunuh berteriak, "Siapakah kamu?".Terdengar suara kecil seorang anak, "Saya Ion. Selama 100 tahun saya disiksa di penggilingan. Seratus tahun lagi disiksa di perempatan jalan, sekarang saya disiksa di pohon ini. Saya meninggal satu hari sesudah lahir dan saya tidak berdosa."

Para perampok terkejut dan berbisik satu sama lain, "Kalau anak yang tidak berdosa begitu disiksa, bagaimana nasib kita yang membunuh, memperkosa dan mencuri seenak-enaknya?" Dan mereka bertobat, menjadi orang baik bersama Ion selamat masuk surga.

Hemm... Ketika kita omong tentang Tuhan, tidak pernah Tuhan dibicarakan. Selalu hal lain yang jadi pokok omongan itu. "We can't get God out of our system". Kita tidak berhasil menghilangkan Tuhan dari darah kita. Di negeri ini, banyak orang yang sangat korup. Tidak segan mencuri uang tidak hanya dari saudara-saudara yang kaya, tetapi juga dari rakyat biasa. Toh mereka mengatakan bahwa mereka percaya pada Tuhan.

Orang yang mengatakan bahwa ia percaya pada Tuhan, padahal dia korup dan mencuri uang dari rakyat, dia bohong. So, kalau Ion saja yang meninggal hanya satu hari setelah dilahirkan disiksa 300 tahun, bagaimana lagi dengan nasib pengisap darah rakyat itu?

Sahabat Kecilku

kau jauh melangkah
melewati batas waktu
menjauh dariku
akankah kita berjumpa kembali
sahabat kecilku
masihkah kau ingat aku
saat kau mendungkan
segala cita dan tujuan mulia

CHORUS :
tak ada suatu masa
seindah saat kita bersama
bermain-main hingga lupa waktu
mungkinkah kita kan mengulangnya..

REFF :
Tiada...
Tiada lagi tawamu
yang slalu menemani segalasedihku...
Tiada...
Tiada lagi candamu
yang selalu menghibur disaatku gurauan
Bila malam tibaku slalu mohonkan doa
menjaga jiwamu
hingga suatu masa bertemu lagi

(Gita Gutawa)

Yes En No

Ada alkisah tentang seorang raja yang dihormati oleh rakyatnya. Pada waktu pesta rakyat, ia datang dan bergabung dengan mereka. Satu per satu tangga pun dituruni dengan tepuk sorai dari seluruh rakyat. Ketika sampai di bawah, sang istri yang sangat cantik berlutut di hadapannya, betapa ia begitu dipuja oleh semua orang di sana. Dan ia merasa sangat senang dengan penghargaan tersebut. Kondisi dealektis ini menggambarkan situasi kesombongan raja akibat pujian para penjilat, "rakyat".

Setelah itu ia pun kembali ke singgasana yang berada di atas. Ketika ia menapaki satu tangga, terdengar suara cekikikan seorang anak, naik tangga kedua, seorang tua pun bersiul, dan menapaki tangga selanjutnya terdengar riuh suara tertawa dan cacian. Begitu ia dibuat malu oleh kondisi tersebut.

Maka esok harinya ia pun meminta arsiteknya untuk membuat tangga yang terus masuk sampai ke dasar bumi. Dan akhirnya pada selanjutnya, sang raja yang menapaki tangga terus turun ke bawah beserta yang lainnya tidak dapat kembali lagi karena mati kena panas bumi. Nah, dari cerita di atas, kita bisa dapat satu pelajaran bahwa kesombongan akhirnya berakhir di neraka.

Si Iwan, seorang direktur yang bergelimang harta, dia berada "0n the top of cloud-ten" dan para opsir yang memakai pakaian seragam mungkin merasakan mendapatkan penghargaan lebih karena simbol yang digunakannya. Timbul satu pertanyaan dari kondisi tersebut, apakah kebanggaan itu sama dengan kesombongan? Maka jawaban yang muncul adalah ada yang disebut kebanggaan yang baik dan kebanggaan yang tidak baik. Tentu beda antara kesombongan dan kebanggaan, karena kesombongan itu adalah kebanggaan yang tidak baik.

Seperti halnya revolusi pada masa orde baru. Revolusi atau perubahan adalah baik, tapi G30 S PKI itu tidak baik. Atau perbedaan antara rendah hati dan ga pede. Rendah hati akan dimiliki oleh setiap orang yang kenal sama kondisi dirinya dan tahu sapai sejauh mana kemampuannya. Dan ketika ia menampilkan dirinya yang sebenarnya itulah yang disebut dengan rendah hati.

Maka benarlah pernyataan, "Bangga yes, sombong no. Revolusi yes, G30 S PKI no. Rendah hati yes, yes, ga pede no..."

Be Adult...

Ternyata dirimu sekarang sudah seperti orang dewasa sayang. Padahal dulu kita pernah berikrar dan berjanji kita tidak akan menjadi dewasa. Kita tidak mau menjadi dewasa, karena orang dewasa menilai segala hal dengan angka. Coba tanya kepada orang dewasa (atau yang kelihatannya dewasa), bagaimana gambaran tentang sebuah rumah yang indah. Yang pertama kali terucap pasti nominal. Mereka akan menyebut sejumlah angka dengan banyak nol lebih dari delapan angka untuk harga sebuah rumah yang mereka sebut indah. Atau ketika mereka berkenalan dengan orang, apa yang akan mereka tanya, pasti berapa umur kamu, atau berapa jumlah saudara kamu dan bahkan bisa saja mereka tanya berapa penghasilan kamu. Bah, menjadi dewasa sungguh membosankan. Mereka kehilangan "taste" hidup.

Dan kondisi ini pun menimpa diriku sayang. Aku mulai menilai segalanya dengan angka. Aku ga bisa menggambarkan lagi tentang sebuah rumah yang indah misalnya adalah rumah yang di jendelanya tumbuh bunga geranium berwarna ungu, dan temboknya berwarna jingga. Aku sudah mulai ga punya "taste" hidup. Karena selalu disibukkan dengan angka dan angka. Bagiku memberikan pertanyaan "apa hobi kamu", "apa musik favoritmu", adalah sesuatu yang tidak penting lagi. Duh, aku mulai menjadi dewasa. Padahal itu adalah sesuatu yang kuhindarkan dari dulu. Menjadi orang dewasa adalah yang paling menyebalkan. Karena mereka selalu memerlukan jawaban dan alasan untuk segala hal. Bahkan tidak cukup dengan satu kalimat untuk menjelaskan satu kondisi.

Dan aku ingat dengan yang dikatakan teman yang lain, bahwa aku adalah pecundang. Karena aku takut menghadapi kenyataan. Kenyataan menjadi dewasa. Kenyataan berubah menjadi orang lain (itu yang selalu ada dibenakku, menjadi dewasa adalah menjadi orang lain, karena kita berubah seperti ular berganti kulit, walaupun toh tidak tampak berbeda dari luar, tapi kulit itu tidaklah kulit yang sama dengan sebelumnya). Dan untuk saat ini aku pun masih diliputi keraguan, apakah aku seorang pecundang karena aku takut menjadi dewasa? Ataukah seperti dibenakku yang satu lagi bahwa aku tetap mempertahankan idealitas manusiaku, bahwa menjadi anak-anak adalah satu hal yang sangat baik bagiku, karena aku akan tetap bisa merasakan segala hal dengan lebih alami, menerima segalanya seperti adanya tanpa perlu complain dengan kondisi yang ada, tanpa perlu penjelasan panjang untuk pertanyaan yang ada dibenakku.

Entahlah... Tapi dalam hati kecilku, aku masih ingin tetap menjadi seorang anak-anak...

Matinya Perempuan

Ah, perempuan… kapan dirimu bisa keluar dari kungkungan patriarkal. Zaman sudah maju begini pun masih juga perempuan tidak diberi keleluasaan. Padahal kondisi sudah tidak sama lagi dengan kondisi kekhalifahan Umar (yang pada masanya ia getol untuk menyingkirkan perempuan dari wilayah publik, dan berhasil menempatkan hijab (pembatasan) antara jamaah laki-laki-perempuan, menempatkan perempuan pada posisi paling belakang pada shaff sholat dan melarang perempuan untuk menjadi imam sholat berjamaah). Dan sekarang juga bukan puluhan abad yang lalu dimana perang Uhud berlangsung dan menyebabkan laki-laki berleluasa untuk mempunyai istri sebanyak apapun. Atau juga bukan masa dimana nabi hidup sehingga budaya purdah tetap dipertahankan.
Padahal aturan hidup kita (Al-Quran) jelas-jelas memberikan keleluasaan sama dirimu perempuan. Al-Quran hanya menjelaskan aturan hijab untuk menutup bagian tubuh yang tidak layak untuk dipertontonkan dan tidak mewajibkan menutup sesuatu yang biasa tampak. Al-Quran juga menegaskan kalau tidak mungkin suami bisa berlaku adil, sehingga disarankan bahwa mereka hanya boleh beristri satu.
Tapi dirimu perempuan tetap saja tidak bebas bersuara membela hak-hak hidupmu. Mau dipoligami adalah kebodohan, karena hakmu diinjak-injak. Dibatasi dengan purdah adalah juga pemarginalan, karena dirimu takkan bisa menunjukkan kecantikan. Dan dirimu perempuan bukanlah pemuas untuk mereka para lelaki, hingga dirimu rela menepis perasaan ketidaknyamanan ketika suamimu meminta kesetiaanmu padanya di atas ranjang.
Sampai kapan dirimu perempuan terkungkung dalam dunia yang tidak menganggap keberadaan dan memberikan keberpihakan pada eksistensimu, perempuan. Dirimu sendirilah yang harus berjuang menuntut hak keberadaan dan penghargaan sosial. Karena tidak akan datang seorang pahlawan pun dari mereka yang mau merelakan jiwanya untuk memperjuangkan hak-hak hidup atas dirimu. Come on girl, speak up for liberty and egality!


(Diriku tersadar hari ini karena tulisanmu. Apresiasiku yang sebesar-besarnya padamu Mr Engineer, semoga itu adalah inspirasi yang tetap memberikan spirit untukku dalam mensuarakan kebebasan kami)

Zaman Emansipasi

Katanya sekarang zaman emansipasi
Derajat perempuan sama dengan laki-laki
Perempuan bebas berekspresi
Sebebas yang dilakukan lelaki

Katanya sekarang zaman emansipasi
Perempuan boleh ada di setiap lini
Perempuan bisa bekerja seperti lelaki
Mengeksplorasi kemampuan diri

Dahsyat benar emansipasi
Perempuan jadi budak teknokrasi
Penghambaan duniawi
Yang membelenggu jati diri

Bulshit dengan emansipasi
Pengkambinghitaman yang mengebiri
Sabotase harga diri
Hak azasi pun dicuri

Inilah zaman emansipasi
Hati nurani diperjual beli

OcTob3r Is Br3aST CaNceR AwaR3n3sS MonTh...


Kanker payudara merupakan penyebab kematian terbesar kedua pada perempuan-perempuan Indonesia!


WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa kanker merupakan problem kesehatan yang sangat serius karena jumlah penderita meningkat sekitar 20% per tahun.


• Di Amerika Serikat 180.000 kasus baru per tahun

• Di Netherlands 91 kasus baru setiap 100.000 penduduk

• Di Indonesia sendiri, diperkirakan 10 dari 100.000 penduduk terkena penyakit kanker payudara.



CEGAH PENYAKIT KANKER PAYUDARA!!!


Caranya... with knowing your body, deteksi sejak dini!


Gejala-gejala:


a.Benjolan yang tidak hilang atau permanen, biasanya tidak sakit dan terasa keras bila disentuh atau penebalan pada kulit payudara atau di sekitar ketiak.
b.Perubahan ukuran atau bentuk payudara.
Kerutan pada kulit payudara.
Keluarnya cairan dari payudara, umumnya berupa darah.
Pembengkakan atau adanya tarikan pada puting susu.


Yang Beresiko Terkena Kanker Payudara:

Perempuan yang bertambah usia

Mempunyai riwayat keluarga (ibu, saudara) yang mengidap kanker payudara

Riwayat medis personalPerempuan dengan riwayat kanker payudara di salah satu dadanya memiliki risiko 3 sampai 4 kali lebih tinggi terkena kanker payudara di dada lainnya. Perempuan dengan benjolan di payudara atau yang didiagnosis LCIS (lobular carcinoma in situ) juga berisiko tinggi terkena kanker payudara.Dense breastKeadaan dense breast merupakan hal yang normal pada perempuan muda. Pada perempuang dengan usia yang lebih tua dense breast merupakan cermin adanya stimulasi hormonal pada payudara dan meningkatkan risiko terkena kanker payudara.Pernah melakukan terapi radiasi di wilayah dadaKeturunan KaukasiaMenstruasi awal (sebelum usia 12 tahun)Menopause terlambat (sesudah 50 tahun)Tidak punya anak, atau memiliki anak setelah usia 30 tahun Terjadi mutasi genetis yang meningkatkan risiko. Mutasi genetis untuk kanker payudara menjadi topik hangat penelitian akhir-akhir ini. 3 sampai 10% dari kanker payudara mungkin berhubungan dengan perubahan pada gen BRCA1 atau gen BRCA2. Perempuan dapat mewarisi perubahan ini dari orang tua.


Siang hari, di gubuk bawah pohon rambutan galangan sawah belakang rumah.
Waktu yang tepat untuk berleha, menikmati hidup…

Sejauh pandang menatap hamparan hijau padi yang luas. Angin sepoi semilir. Langit biru berias dengan eloknya putih-putih awan. Ada beberapa burung gereja terbang beriringan. Sesekali mendarat di hadapan, seakan hendak berbagi cerita akan keriangan mereka hari ini. Kicauannya turut pula melengkapi suasana siang yang khidmat.

Takjub….
Ya… Itu yang pertama kali terasa. Sungguh Agung Sang Pencipta. Segala yang diciptakannya benar-benar sempurna. Serasi dan seimbang dalam setiap kadarnya. Pernahkah kita berfikir? Seperti ini misalnya, mengapa langit di siang hari berwarna biru? Secara ilimiah, jawabannya berkaitan dengan dengan gelombang warna dan cahaya matahari. Tapi, jauh lagi manusia boleh bertanya, kenapa Tuhan tidak membuat warna langit siang hari hijau saja atau kuning saja. Hijau kan cantik. Juga sejuk untuk mata. Kuning pun cantik. Tampak ceria.

Kenapa ya…? Kenapa Tuhan menjadikan warna langit siang hari biru? Kata Si Om (Heidegger, guys!) jika kita ingin dapat memaknai hidup, kita harus menganggap segala sesuatunya sebagai fenomenon, sesuatu yang baru, sesuatu yang belum dikenal, dan kita pasti mempertanyakan sesuatu itu. Dari situlah manusia tidak akan berhenti berfikir. Karena, sejauh manusia berfikir atau tidak membiarkan ketiadaan berfikir melanda diri, ia akan kembali merenungkan kondisi kemanusiaannya. Kenapa ia hidup, untuk apa ia hidup dan bagaimana ia menjalani hidup.

Pasir Bergaris

Konon ada seorang laki-laki melepaskan agama yang dia anut. Dia juga meninggalkan barisan para ateis, dan penganut keyakinan lainnya. Dia kemudian merasa yakin terhadap kebenaran dari agama lainnya lagi.

Setiap waktu dia mengubah keyakinannya. Dia membayangkan telah meraih sesuatu, meski belum cukup. Setiap saat dia memasuki sebuah lingkungan baru, dia diterima dan penerimaannya dikaitkan sebagai suatu hal dan tanda yang baik dari kejernihan ruhani dan pencerahannya.
Namun demikian, keadaan batinnya sedang bingung. Akhirnya dia mendengar seorang guru terkenal, dan dia pun pergi untuk menenmuinya. Setelah mendengarkan keluh kesah dan gagasan-gagasannya, Sang Guru itu berkata, "Kembalilah ke rumahmu. Akan kukirimkan keputusanku dalam bentuk sebuah pesan."

Segera setelah itu si laki-laki itu mendapati seorang murid syeikh itu berdiri di depan pintu. Dalam genggaman tangannya ada sebuah bungkusan dari gurunya. Dia membukanya, dan melihat bahwa bungkusan itu berisi sebuah botol kaca, yang separoh penuh darinya diisi dengan pasir berwarna susun tiga - masing-masing berwarna hitam, merah, dan putih. Botol itu dibungkus dengan sebuah kain katun. Di bagian luar ditulisi :"Buanglah pembungkusnya, lalu goncang-goncangkanlah botol itu untuk melihat seperti apa engkau ini sebenarnya."

Dia kemudian membuang pembungkus itu, menguncang-guncangkan pasir dalam botol itu. Butiran-butiran pasir berbeda warna itu bercampur, dan semua yang tertinggal berupa sekumpulan pasir berwarna abu-abu.

Dunia Karikatur dari Dirinya Sendiri

Dunia selalu menghina dan menertawakan ajarannya sendiri
Karena dunia manusia menampakkan dirinya sebagai hal yang mulia dan suci
Dunia itu terpaksa menyembunyikan absurditas yang terdapat di dalamnya
Begitulah muncul suatu dunia topeng dan pemain sandiwara
Yang mau memberi kesan mewakili kenyataan dari realitas
Perpisahan malam dari siang
dan dari dia yang menyudahi hari
adalah kata-kata yang penuh teka-teki
kenang-kenangan seperti nasehat seorang ibu pada anaknya agar pulang pada waktunya
tetapi ajakannya merupakan suatu lambaian yang entah apa artinya
seolah ketenangan hanya dapat ditemukan
apabila orang tinggal dalam pertemuan malam di luar
bukan dengan seorang wanita tetapi dengan cara wanita menemui keterbatasannya
tenggelam dalam angin malam
apabila orang menemukan dirinya sendiri
apabila orang menerobosi hutan dan padang seolah mencari sesuatu
tenggelam dalam gemanya kesepian sayup-sayup
seolah menduga sesuatu
tenggelam dalam ketenangan langit yang tinggi
seolah itu demikian
tenggelam dalam diamnya embun
seolah itulah ketenangan dan kesejukan dari yang tak terbatas
yang tidak ubahnya seperti kesuburan malam sepi dan yang hangatnya samar-samar dimengerti
seperti kabut malam yang nyaris dapat ditembus.

Pagiku Sendiri

Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya.
Lengang, senyap, sunyi.
Sendiri.
Aku tetap sendiri.
Sendiri itu baik, kata ibuku.
Karena engkau akan merasakan nikmat yang tak kau rasakan ketika kau berada di tengah keramaian.
Namun aku tak pernah bisa merasakan nikmatnya sendiri.
Aku bukanlah seorang gadis yang punya kecerdasan interpersonal yang tinggi.
Aku lekas bosan sendiri selekas bosan pula bila aku berada di tengah keramaian.
Satu-satunya alasan kenapa aku selalu sendiri adalah karena aku bosan berada di tengah keramaian.
Aku selalu lari dari kebisingan karena aku benci kebisingan.
Kebisingan yang membuat saraf-saraf otakku menegang.
Kebisingan yang selalu memicu detak jantungku hingga emosiku ingin meletup.
Ya… kebisingan yang itu!

Berhenti Melihat ke Belakang!

Perempuan tua itu benar-benar tangguh.
Di usianya yang hampir setengah abad ini ia tetap bersemangat menjalani hidupnya.
Salut deh!
Beban keluarga semua dipikulnya.
Tak sekalipun ia menengok ke belakang, sekedar mengingat dan mempertebal memorinya dengan keramaian indah yang pernah dipunyainya dulu.
Atau sekedar berhenti sejenak, mana tahu masa lalu itu akan kembali.
Suatu hari ia berkata, “Untuk apa mengingat masa lalu, karena itu akan membuat encok mama kambuh”.
Masa lalu ada untuk dikenang, tapi bukan berarti harus selalu diingat.
Karena yang akan kita jalani adalah sekarang dan masa yang akan datang.