Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Tulus dalam Sapa


aku ingin bertahan dengan hati ini
menikmatinya dengan segala rasa
pahit, getir atau manis

adakah tempat di sela hatimu
buatku

lagi, aku mengingat saat di mana semuanya ada
aku, kau, kita, membuat cerita di sana
berlaku khidmat akan kebaikan massa
dan masa pun mencatat berbait-bait suka

kembali, adakah kata yang mengalir cita
ringan tanpa prasangka
karena duka lara tersayat atasnya
atau bukan lagi saatnya asa kita sama
terkurung dalam bisunya bibir yang tetap terkatup
sapaan yang enggan bertaut
hanya pikiran yang berkelana
saling menerka

dan waktu pun terus berlalu
tertawa melihat kita
saling mengasing sampai terasing
akan berlaku kalimat itu
bahwa sekali berarti sudah itu mati

lagi-lagi pikiranku berkelana, menerka

bayangan itu selalu berada di hadapanku
sepertinya itu dirimu
memandang dari kejauhan
tapi hanya menatap
tak berani mendekat
tersenyum atau berkata
hanya menatap
datar tanpa makna apapun kudapat

bolehkah aku menghampiri
memulai dengan senyuman
dan pandangan suka
bukan pandangan terka
yang aku yakin itu menyayat
yang membuat kita berasa terhina

apapun itu aku bersedia lakukan
supaya hilang batas di antara kita
supaya ringan kembali rasa kita
supaya ada lagi senyum di bibir kita
supaya bisa lagi kita berkata
dan binar itu kembali hadir di sudut mata

kelabu di ujung waktu


aku tak punya kata-kata untuk kurangkai lagi
semuanya habis begitu kau berlalu meninggalkanku
sayatannya tergores terasa sangat sakit di hati
aku merana di ujung waktu yang kelabu

kepergianmu meninggalkan sejuta tanya di hatiku
tanpa kata tanpa alasan tanpa pesan sampai padaku
marah, sedih dan resah bergumpal di ulu
aku merana di ujung waktu yang kelabu

rasa perih kehilanganmu sampai kini masih lekat di hati
hingga aku pun berjalan perlahan dengan segudang ragu
cintamu mungkin takkan pernah kurasakan lagi
aku merana di ujung waktu yang kelabu

pernah ada beberapa hadir ingin menggantikan posisimu di hatiku
dan ku berusaha menghapusmu lalu memberinya tempatmu
tapi kau tak mau beranjak, membuatku mengharu biru
aku merana di ujung waktu yang kelabu

usiaku tak lagi muda tentu kau tahu itu
aku tetap memilih untuk menunggumu
meski waktu perlahan memakan rupaku
cintamu akan tetap kujaga dalam lipatan hatiku
walau kutahu aku merana di ujung waktu yang kelabu

Tak Perlu Menunggu Bulan

Tidak lagi terhitung memikirkanmuKarena setiap detik menyisakan sendirikuMaka kenangan bersamamu membawaku pada laraMeski tanpa airmata tapi hatiku meninggalkan lubang yang isinya nestapaAku melukis wajahmu dalam khayalan tanpa cumbuAku tisik ceritamu dalan rajutan kain sisa hidupkuAku menyalakanmu dalam tungku sepi yang berkobar-kobar  tidak keruanAku mencintaimu dengan cinta yang tidak lagi mampu kuberi  judulHanya perlu menginjak bumi ketika aku merinduKarena bulan tidak selamanya tampak di malam hariEntah karena awan yang tidak menginginkan kita bersamaAtau karena gelap yang memang tidak mampu kita patahkanPelangi yang kau titipkan padaku masih tersimpan rapat dalam sakuSesekali kulihat saat aku merapuhBukan karena indah warna-warninya yang semerbakTapi karena ikhlas dan tulus yang kau torehkan kala merapikannyaAku mencintaimu entah sampai kapanKarena ceritaku sangat tidak mampu aku kembangkanAku mencintaimu meski tak memilikimuKarena dengan mencintaimu aku merasakan kebahagiaanWalau tak sempurnaWalau tidak seperti surga duniaTapi aku yakin dengan yakin yang aku punyaDi sana kaupun merinduRindu yang sama seperti milikkuRindu yang dengan mimpi kita bertemuTak perlu menunggu bulan untuk mencintaimu dengan seluruhkuKarena bumi pun masih selalu memberikan kekuatan pada hatikuUntuk mencintaimuUntuk menantikanmu

by: Rizal Rais

Jika Ku Mati Hari Ini

bungkam burung-burung jika ku mati hari ini
biarkan mereka memandangku dari sangkar jeruji kuningan
menyaksikan mamaku terisak-isak
tutup wajah rata jam dinding dengan kain hitam dan matikan alarmnya
bendung air lumpur yang mengalir di selokan
bisikkan kepadanya, "dia telah mati, dia telah mati"

jika ku mati hari ini,
bakarlah kertas-kertas di kolong ranjangku hingga hangus dan tersisa abu
diamkanlah suara kematianku
hingga semua itu tak mempermalukan ingatanku

jika ku mati hari ini,
minumlah susu kemasan karton, tanpa alasan apapun
memekiklah dan menjerit di mall tempat berbelanja
di depan semua hantu buta itu
di depan boneka pajangan yang diam dan rendah itu
di depan dewa-dewa mall saksi segalanya
dari dunia neraka carut mereka
ciptalah kehebohan
sebuah kehebohan untuk membungkam burung-burung di angkasa dan hujan

jadilah gila dan liar jika ku mati hari ini
pergilah ke boneka pajangan berwajah dingin itu
dan cabut sepatu mungil mereka
dan cari tahu apakah boneka pajangan punya jari kaki
dan jika mereka punya
(dan bayangkan mereka semua berkuku kasar)
dan cari tahu bagaimana rasa daging boneka pajangan plastik itu
ciumlah sepatu mereka
jilatlah dengan lidah kikukmu
lakukanlah itu tepat di depan para pembelanja yang belum mati
juga di depan wanita-wanita yang memadati toko parfum
berteriaklah dan beritahu semua orang
"dia telah mati, dia telah mati"

lakukan apa yang mereka bayangkan
melangkahlah menuju toko makanan
gigitlah semua apel di sana
lalu letakkan di tempat semula
ciumlah orang-orang yang sulit kau kenali dengan nafsu
hingga mereka pusing gelagapan beberapa saat.

disadur ulang dari buku "Let Me Stand Alone, Rachel Corrie"

Coretan Semangat

kembali kibarkan semangatmu wahai puan
jika kau tetap ingin menjadi seseorang di masa depan
impian itu bukan untuk dirasa atau diendapkan
tapi itulah acuan perjalanan panjang

hari ini, dimana semua impian itu ditilik
ukirlah ia pada bebatuan dalam hatimu
agar tak terhapus oleh sapuan air mata
agar tak terpengaruh oleh rasa yang datang dan pergi lalu hilang
camkan dalam pikiran bahwa impianmu hanya kau yang bisa capai
bukan dia atau mereka, yang akan menghadiahkannya untukmu

tegarlah...
untuk kembali melanjutkan perjalanan

sejatinya cita


raih cita di tengah massa
asa itu modal luar biasa
naluri berjarak sementara
usah duka terurai di sana

perempuan ini berlimpah doa
usung mau diri agar suka cita
tak apa jika
raga tak bersua
adalah cita paling utama

adil ada di setiap langkah, menyatu
riak berirama sendu
meski penghalang membatu biru
isyarat yang menjelma
dalam setiap kata
ingini hidup berkisah
nan sejati jelang sesama

jika senyumku tidak ada lagi


aku memulainya dengan menatapmu dari jauh
hingga ku susun kata-kata yang bisa terdengar merdu
karena mengenalmu adalah indah bagiku
walau dalam dunia maya yang kadang semu

sobat, ketika kemarin kuminta padamu tentang yakin
apakah sisa harapan untukku masih kau simpan ?

...
Ya
Harapan itu masih terlipat rapi dalam ruang terdalam batinku
Kubiarkan tak terusik oleh naifku dan tak terjamah oleh nafsuku
walau hasratku terus menggoda untuk bisa kuraih dalam jemariku
kudekap dalam pelukku dan kuhangatkan dengan panas tubuhku
Tapi secercah takut menghampiriku, melontarkan seribu tanya tak terjawab
Adakah yakinmu juga tersimpan bagiku di sana ?
...

sobat, ketika awal kuselipkan senyuman terindah untukmu
apakah kau paham, kalau senyum itu sangat tidak palsu ?

...
Aku tak pasti dengan semuanya
Yang aku tahu, semua tentang dirimu membuatku gamang
Aku bingung dengan penilaianku
Entahkah tulus, entahkah pasti
karena lukaku di masa lalu memakan separuh percayaku
tapi senyummu sudah melemparkan aku jauh dalam penjara jiwa yang gelap dan basah
Tahukah kamu betapa hebat kuasa senyummu untukku
Atau memang sengaja kau semburkan itu dari bibirmu untuk mengikat aku dalam simpul mati yang masai ini
Jelaskan padaku, kumohon
...

kemudian hanya hening yang ada
karena setelah kucoba perbaiki rasa
rinduku padamu menggelora
engakukah sahabat yang selama ini hilang entah kemana

sobat, ketika duka yang coba kubagi begitu berat
apakah ikhlasmu turut serta, atau kau hanya tertawa di ujung sana ?

...
Harta terbaik yang tersisa padaku hanyalah ikhlasku
Bagaimana mungkin ku peluk sendiri untukku
bagimu bahuku selalu tetap ada
andaikan aku bisa, aku bersedia ke sana mendekap dan menghitung air matamu
menikmati sedih bersamamu, dan melacurkan bahagiaku untukmu cuma-cuma
...

sobat, jika senyumku sudah tidak ada lagi
apakah senyummu masih akan setia menemaniku hingga mati ?

...
Tak akan kubiarkan engkau menemui ajalmu tanpa menatap lekat senyumku
Bagiku, apalah arti sunggingan tipis di atas belahan bibirku kalau bukan untukmu
walau tidak akan pernah kunikmati lagi canda tawa yang kau lepas tanpa pengharapan
maka usahaku terus kuhidupkan untuk membuat seribu macam senyuman demi membangunkan kepercayaan

karena aku mengerti, denganmu aku bisa kembali mencicipi arti sebuah kebahagiaan
dan aku paham bahwa duniaku tak akan sempurna tanpa memberimu sepotong senyum paling manis
hingga aku sadar bahwa dengan mencintamu adalah sebuah senyum terbaik yang sangat romantis
...


(sebuah puisi indah yang ditulis oleh seorang abang terbaik, Rizal Rais)

tadabbur


hadir di pucuk-pucuk
wangi jagad beriring biru mayapada
ikhtisar harmonisasi terra
phi, aksioma keselarasan berada

kasidah filantropi terjabar pada setiap kuncup
kazanah jelita terindera gus jampi kalang hidup

misteri haribaan janubi
cemerlang baiduri
hamparan cipta-Nya yang mengirap hati
lafal puji Ilahi

bahala hadir ba'da ambisi
kala jemawa nan profan
hakekat insan berfusi berdikari
jauhari berdaya iktikat gemilang

inayat dari-Nya untuk hamba
kaidah tadabbur terikhtiar
dus langsai di batas jidar

Habis Masa


Jika saja aku melewati masa-masaku dengan penuh rasa syukur
Karunia-Mu tak satu pun kan terlewat kurasakan Tuhan

Di ujung tahun-Mu ini aku meradang
Betapa waktu yang Kau beri terus menjauh
Masaku berkurang perlahan menghilang
Aku merana dengan sauh
Yang masih kupegang

Kayuh aku harus terus mengayuh
Mengejar kesempatan yang lari berjingkat
Tinggi jauh, teriring siasat
Dan kuterasih peluh menempuh

Sampai suatu saat masaku habis
Kuingin berhenti di peraduan-Mu tanpa tangis
Pun bukan dengan hati yang tergilas pulas
Tapi dengan kecupan manis
(dari-Mu Tuhan)

Absurd


jika kau percaya maka kau mempunyai keyakinan yang pasti
lebih pasti dari keyakinan besok matahari terbit
lebih pasti dari beberapa tahun lagi aku akan mati

aku berpikir bahwa inti dari kepastian adalah ketidakpastian

andaikan keyakinan seratus persen pasti
bukankah itu sangat menjemukan?
kita akan mulai mengantuk dan tertidur
tidak ada surprise lagi
tidak ada keinginan lagi
hilang semua ekspektasi

kepastian berdasar ketidakpastian
kepercayaan adalah suatu pengalaman petualangan

lihatlah cakrawala
cakrawala itu pasti ada
dekatilah, maka gejala itu akan menjauhkan diri
itulah justru esensi
cakrawala adalah hal yang ada karena ia tidak ada

aku heran mengapa ada hal yang mengada
lebih masuk akal jika tidak ada apa-apa

pahami bahwa kepercayaan bukan falsafah
yang percaya langsung meloncat dan percaya
yang heran tetap berjalan
keheranan mendorongnya berjalan langkah demi langkah
tanpa pernah mencapai tujuannya
karena hal yang dicari adalah absurd

orang yang berpendapat telah mencapai Tuhan memang tidak mencapai Tuhan

Tepat Tiga Bulan Dan Dua Tahun Yang Lalu


"Maaf sobat, untuk yang satu itu aku tak bisa memenuhi"
Aku teringat dengan kata-kata yang terucap tiga bulan yang lalu
Saat kau menanyakan kepastian posisimu di hatiku


Dua tahun ini kau selalu ada di sampingku
Menemaniku di saat-saat yang sulit
Menyisihkan banyak waktu tuk sekedar mendengarkan curahan galauku
Mendahulukan keinginanku walau kau harus mengenyampingkan kepentinganmu
Kadang kau berada di tepian di saat aku butuh sandaran
Dan semuanya membawa ketentraman
Karena kurasa kau memberi ketulusan hati seorang teman

Dengan selalu mengucap syukur aku menyanjungmu di hatiku
Tak ada yang bisa menandingi kesabaran dan kebaikanmu
Mungkin kau tahu itu
Kau adalah berkah tiada tara untukku
Keberadaanmu mendahului waktu
Sebelum kesusahan mendatangiku
Kau sudah mengusirnya jauh-jauh


Hari itu aku memandang wajahmu dengan kesadaran
Ternyata ada sketsa yang penuh harap di sana
Yang dengannya kau menjalani hari-harimu
Dengan asa yang sudah tergantung di ubun-ubun
Yang jika tak segera kau keluarkan
Akan menjadikan kegilaan di malam-malammu


Dan tiga bulan yang lalu kita bertemu
Kau ingin memastikan kembali posisimu di hatiku
Tapi ku tak bisa berucap banyak
Kata-kataku yang sedikit terasa sudah sangat menyakitkan untukmu
Jika aku ada di posisimu mungkin aku akan meluapkan kesakitan di muka wajahku
Tapi kau hanya duduk terdiam dengan mata berkaca-kaca
Yang sungguh aku tak mampu menatapnya
Kesakitan itu terpancar jelas pada wajah
Usahamu untuk menutupinya dengan senyuman terasa sia-sia

Pertemuan kita diakhiri dengan kata-katamu yang begitu sendu
Tapi sedikit pedas terdengar di telingaku
Aku hanya mampu menunduk dengan sesekali berkata
Dan lagi-lagi, aku hanya mampu mengucap satu kata
"Maaf…"
Mungkin sudah ratusan kali kau dengar di telinga

Binjai, 26/10/09 23:42 WIB
Untuk seseorang yang sesaat tadi mengingatkanku tentang cerita tiga bulan dan dua tahun yang lalu
Terima kasih untuk semua kebaikanmu
Semoga suatu hari aku mampu melunasinya

Ya... Itu Matematis


bisikan-Nya kembali datang malam ini
kata-Nya tak ada yang tak mungkin untuk terjadi
walau untuk itu pun kau harus bermain probabiliti
kata-Nya lagi keseharian yang ada dengan kejumudannya bisa berganti
dengan kepercayaan untuk berintegerasi
ataupun berdiferensiasi dalam suatu fungsi (kebaikan)
limit tak hingganya masalah hidupmu
akan selesai jika kau pintar menggunakan de hospital strategy
mengurai satu persatu dan membagi
dengan faktor ekuivalensi

kupercaya itu
setiap bagiannya mengandung nilai matematis
yang harus bisa kau hitung
bukan untuk mencari untung ruginya
tapi kalau bisa kau hitung
akan ada pembagian yang merata
itulah yang disebut keadilan
walaupun kau tak bisa menegasikan adanya pengalian juga
tapi paling tidak ada keseimbangan yang terkandung di dalamnya
kombinasi di antara keduanya
menjadikan diskriminan sama dengan nol
maka kurva parabola hidupmu akan berada
tepat sejajar dengan aksis horizontal

Incredulity


Think one minute for our nation
You may undertand about a big scenario behind it
Not as simple as 3D tetris game
Only rotate or think how axsis can be symmetry

Simulate is something usual
That you can see on our stakeholders' face
All of just about prestige
They're made from high quality mud
Spotles looked up
Rotten's smelt musky
Show the esthetic of banality

Simulation...
Two thumbs up for it
It's incorrigible
Elegant for them
But felt loathe for us
Your effort is incredulity, sir!

Janjimu Tuk Meraih Impian Bersama


Kau pernah bercerita padaku
tentang sesuatu yang menarik tentang apa yang ingin kau lakukan di kemudian hari
Sesuatu yang kau katakan terasa sangat nyata bagiku
karena kau menceritakan keinginanmu seakan-akan kau sudah sedang menjalani impianmu itu
impian yang mungkin juga impianku dan impian kita semua

Kau pernah berjanji
kau akan tetap berjalan dengan langkah-langkah yang sama
dengan kami yang pernah melalui hari-hari susah dan senang denganmu
untuk mencapai impian bersama
impianmu, kuanggap impianku, impian kita semua

Kau selalu berkata
impian itu takkan hadir jika kita tak mencapainya dengan saling berpegangan tangan
dalam kebersamaan yang menjanjikan untuk mencapai impian
impianmu, adalah impianku, impian kita semua

Ceritamu, janjimu, kata-katamu saat ini masih terekam jelas dalam memoriku
aku pun percaya bahwa kau akan tetap mengingat semuanya
ceritamu, janjimu, kata-katamu tentang impian itu
impianmu, yang masih tetap impianku, impian kita semua

Sampai sekarang aku pun yakin
ceritamu, janjimu dan kata-katamu mengandung kebenaran yang tak mengada-ada
tentang impian menjadi besar yang ingin kau capai bersama dengan kami yang selama ini percaya penuh padamu


Aku tahu bahwa impianmu adalah sesuatu yang sangat berarti dalam hidupmu
yang dengan kebersamaan aku pikir akan tercapai lebih mudah
dan kita pun telah berjanji untuk tetap berpeganan tangan untuk mencapai impianmu, yang juga impianku, impian kita semua

Namun semakin hari kenapa semakin terasa kita semakin jauh
apakah mungkin kau merasa bahwa mencapai impian bersama adalah sebuah bualan
hingga saat ini kau semakin tenggelam dalam usaha pencapaian impian itu
tapi dengan mengandalkan kemampuanmu sendiri


Aku tidak menuntutmu jika kau merasa yakin kau bisa mencapai impianmu sendiri
walau aku sempat yakin dan percaya dengan ceritamu, janjimu dan kata-katamu tentang mencapai impian bersama
tapi aku semakin tak percaya dengan adanya dirimu yang saat ini terasa semakin jauh
karena kau pernah mengutarakan keinginanmu untuk mencapai impian itu bersama
kau ingin mencapai keinginanmu bersama dengan kami yang pernah melalui susah dan senang bersamamu
tidakkah kebersamaan itu membuatmu merasa nyaman hingga kau sekarang berlari menghindar dan menjauh

(Atau kau merasa ternyata selama ini kami hanya merepotkanmu
hingga kau tak ingin memberikan sedikit ruang untuk kami masuk ke dalam hari-harimu belakangan ini)

Hmm… Aku masih yakin akan ceritamu, janjimu, kata-katamu tentang meraih impian bersama

Mungkinkah kau punya pikiran semacam itu
bahwa kami ini hanya merepotkan hari-harimu
dan kau menganggap impian kita semua hanya rencana yang tak mungkin untuk dicapai bersama
padahal sudah bertahun-tahun kita bersama
aku yakin sudah merasa mengenalmu
aku percaya kau tidak mungkin punya pikiran semacam itu

Dan aku tetap yakin kau masih ingat akan ceritamu, janjimu, kata-katamu tentang meraih impian bersama

Hari Ini Pukul 2 Dini Hari


Hari ini pukul 2 dini hari
jiwaku tergelitik
hadir sesuatu
ingin menghibur
dengan kesukaan

Hari ini pukul 2 dini hari
anganku melayang
mengejar kepastian
menelusuri alam bawah sadar
mencari sesuatu yang hilang

Hari ini pukul 2 dini hari
hatiku penuh harap
sesuatu yang hilang
hadir utuh
kembalinya kalbu

Hari ini pukul 2 dini hari

Ternyata jiwaku telah pergi
terbawa malam-malam yang lalu
bukan kelam
namun gelapnya
membuat nyaman
terasing
tapi menenangkan
bagimu yang rindu kedamaian
dan bagiku yang mengagungkan sepi dan kesendirian

Hari ini pukul 2 dini hari
tanpa makna
tanpa sapa
aku sendiri
menenggelamkan diri

Terlimit Jera Tak Terlena


Berdialog dengan hati
yang angkuh
terkisi

Serba-serbi hari
mensugesti
asasi menyerpih
tak sudi diri
bertautan badani

Saban hari
anak laki-laki
meriba rindu
sembari berkirap diri
zuadah dilengkapi

Laksana lazuardi
kepayang mata memandangi
bumi menyeringai
pada sosok yang tak tahu diri
yang kerdil
yang imajinya berlari
mencari dian seperti matahari
padahal rembulan hanya mengintip di sempadan

Dan asmara terpasung
jiwa menembang malu
diri menyumpah
terlimit jera
tapi tak terlena

Mencari Sesuatu Apa


Terjaga dari lelapnya mata
makna tersirat
di sudut-sudut jendela
peraduan

Hari ini berlalu
tanpa sesuatu yang berarti

Hati dipenuhi asa
namun tangan tak kuasa
tuk bertindak
kaki tak ringan
melangkah
mencari sesuatu apa

Kesadaran pun menampar sukma
bergelayutan
seolah tak mau lepas
menunggu sampai ku menyapa

Tapi ku tetap
pulas
hati tak bergeming
melihat realita menggilas
idealita
dan ku pun terpidana
dalam hayalan tak berhingga

Zaman Emansipasi

Katanya sekarang zaman emansipasi
Derajat perempuan sama dengan laki-laki
Perempuan bebas berekspresi
Sebebas yang dilakukan lelaki

Katanya sekarang zaman emansipasi
Perempuan boleh ada di setiap lini
Perempuan bisa bekerja seperti lelaki
Mengeksplorasi kemampuan diri

Dahsyat benar emansipasi
Perempuan jadi budak teknokrasi
Penghambaan duniawi
Yang membelenggu jati diri

Bulshit dengan emansipasi
Pengkambinghitaman yang mengebiri
Sabotase harga diri
Hak azasi pun dicuri

Inilah zaman emansipasi
Hati nurani diperjual beli